Just You!
Lucu yah. Padahal sudah bertahun-tahun. Tapi bayanganmu masih saja mengikuti.
Cukup! Biarkan aku hidup dengan tenang, cerita itu sudah lama terlewat. Aku mengaku aku yang salah, tapi, bukan sepenuhnya juga. Aku tak tau kau memendam rasa itu sendirian, aku tak tau tingkahmu dulu adalah untuk membuatmu lebih dekat denganku. Aku tak tau.
Kau tak pernah bilang hal ini padaku, bahkan tak seorang pun yang tau. Semuanya terbongkar kala itu, dan itu sudah terlambat.
Pengakuan yang harusnya tak pernah kau ungkap. Yang membuatku merasa bersalah, selalu memikirkan dirimu, bahkan benih-benih itu sudah merambah, melalang buana entah sejak kapan.
Bisakah kita atur ulang waktu? Jujur saja, aku rindu dengan kamu yang dulu. Segala tingkah konyolmu, yang berhasil membuat wajahku merah padam. Apakah itu yang hanya bisa kau lakukan untuk berinteraksi denganku? Bahkan, saat kita duduk satu bangku, perdebatan kecil itu selalu menghiasi.
Terkadang kita menertawakan hal-hal konyol yang tak begitu lucu menurutku, tapi entah mengapa, melihat kau tertawa begitu lepas, membuatku ikut tergelak. Bukan leluconmu, tapi tawamu.
Siapa yang menyangka, dua orang yang jika dipertemukan akan berubah mejadi Tom and Jerry- yang salah satu dari mereka menyimpan rasa?
Bodohnya aku
Kala itu, hanya ada rasa sebal saat kau menunjukkan batang hidungmu. Dimanapun itu. Ingin ku menenggelamkanmu didalam rawa-rawa. Dan aku bisa tertawa puas. Hidup dengan bebas.
Bertahun-tahun kita menjalani kehidupan seperti itu. Menjahili, mengolok, menyindir, dan perdebatan kecil. Namun, lama kelamaan aku menikmati itu semua. Aku menyukainya. Aku menyukai sosokmu yang apa adanya.
Memang, sesekali kita tertawa bersama, saling bercerita. Namun tak bertahan lama, teman-teman kita berhasil membuat suasana semakin runyam dengan istilah ‘makcomblang’
Lagi dan lagi, aku tak terlalu menghiraukan hal itu.
Kata mereka kau begitu dingin. Namun didepanku kau terlihat hangat dan apa adanya. Ah, aku menampik semua argumen itu.
Tapi aku merindukan sosokmu
Entah kenapa, tiba-tiba kau seperti hilang begitu saja. Tak ada hujan, tak ada angin. Kau berhenti dengan ‘rutinitas’.
Baiklah.. memang itu yang ku inginkan sejak dulu, membuatku sedikit lega, setidaknya tekanan darahku tidak akan terus menanjak.
Tapi aku juga tidak munafik. Aku merasa kehilangan. Aku merindukanmu. Merindukan kehadiran sosokmu. Perbincangan ringan, saling bertukar pesan singkat. Tertawa. Tergelak. Bercerita. Saling memberi kabar, walau dengan dana mengejek. Minumbulkan perdebatan kecil ‘lagi’.
Tetapi, itu yang membuatku merindu.
Selang beberapa minggu, ternyata kau mengencani teman ku. Teman dekatku. Apakah itu salah satu cara membalaskan dendammu? Membalas perasaanmu yang sudah lama tak aku hiraukan?
Hei, dimana salah ku saat itu? Aku bukan orang yang begitu peka dengan keadaan. Aku bukan seperti perempuan pada umumnya. Aku tak tau jika kau tak berucap, jika jari itu tak menari indah di benda pipih persegi panjang dalam genggaman. Yang langsung kau tujukan untuk diriku.
Hingga saat itu, kau mengungkapkan semuanya. Disaat kau menjalin sebuah hubungan terlarang dengan sahabatku sendiri. Lalu tiba-tiba kau pergi meninggalkannya. Juga meninggalkan ku.
Boleh aku memanggilmu lelaki brengsek?
Lelaki buaya darat?
Apapun umpatan itu bersarang untuk dirimu. Yang naasnya, sangat aku rindukan. Dirimu yang berhasil mencuri sebagian dari hatiku.
Aku memaki dalam hati. Aku menjadi perempuan paling bodoh di dunia ini.
Tak bisa merasa
Tak bisa membalas perasaan seseorang yang terlihat begitu tulus dan apa adanya
Tak bisa merelakan
Tak bisa menampik rasa suka dan rindu yang hingga kini masih berbekas
Detik itu juga, aku mengganti nomor dan semua akun sosial media. Aku tak lagi bisa menghubungimu. Tak lagi bisa seperti dulu. Kita sudah berpisah sejak pengumuman kelulusan itu. Kau dan aku, memang tak seharusnya menjadi kita
Biarlah itu menjadi cerita kelam yang terkubur bersama waktu. Biarkan aku merasakan apa yang teman-temanku rasakan saat remaja. Warna-warni merah jambu. Tetapi, rasa itu masih ada hingga kini. Membuatku memberikan sinyal berbahaya dikala sesorang berani mengungkapkan perasaanya.
Membuatku merasa tidak nyaman, berlari menjauh. Berubah.
Yah, persis seperti yang kau lakukan.
Berubah dan menghilang.
Ragamu kini masih ada, tatapan itu sempat bertubrukan. Salama itu pula kita tak saling bertegur sapa. Ramadhan ini, sudah menjadi Ramadhan yang ke sekian untuk kita saling bertemu. Bersitatap.
Jujur. Rasa itu masih ada. Masih membekas dalam dada, getaran itupun masih ada. Membuatku diam membisu, tak bisa berkutik. Bodohnya diriku yang masih menyimpan rasa dan ruang itu dihati, bahkan sampai saat ini.
Ya! Hanya dirimu!
Tak sadarkah, perlakuanmu beberapa tahun yang lalu masih membekas, menghantui kehidupanku hingga kini?
Lantas, bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah melanjutkan hidup dengan normal? Setelah meninggalkan kubangan luka?
Apakah kau masih menemukan berbagai persamaan dalam diri kita? Atau kau juga mengubur semua bersama dengan menghilangnya dirimu? Kala itu?
Ah iya. Aku berdoa semoga kau tak bisa menemukan tulisanku disini. Tak akan pernah. Sudah lama aku ingin menulis seperti ini, tetapi bayanganmu selalu saja menghantui.
Bagaimana bisa? Aku saja tak menyimpan nomor ponselmu.
Sosial media? Aku tak mau membuka luka lama dengan mengikutimu, mengetahui segala aktivitasmu
Pada intinya, semoga kau tak pernah menemukanku disini. Tak akan pernah.
Semoga.
Komentar
Posting Komentar